Piala Kemerdekaan Tak Mungkin Diundur

Pergelaran Piala Kemerdekaan tidak mungkin diundur karena sudah tidak ada waktu lagi untuk menyelenggarakannya . Kelangsungan even ini pada 21 hingga 29 Agustus di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, juga sudah disampaikan kepada tim-tim peserta dan mereka sudah menyetujuinya.

Peserta turnamen Piala Kemerdekaan ini adalah Libya, Maladewa, Kamboja, Myanmar dan tuan rumah Indonesia yang menurunkan dua tim, yakni timnas senior dan timnas U-21.

Sekjen PSSI Nugraha Besoes menjelaskan, kepastian waktu penyelenggaraan Piala Kemerdekaan sudah diperhitungkan matang-matang, termasuk dengan kesiapan tim-tim tamu. “Tim-tim tamu sudah fixed dengan jadwal yang kita sampaikan sehingga tidak mungkin kita geser lagi,” jelasnya, Rabu (6/8).

Menurut Nugraha Besoes, semula memang ada pemikiran agar penyelenggaraan Piala Kemerdekaan ini dipecah dua, yakni di Jakarta dan satu tempat lainnya di luar Jakarta. Namun, pandangan ini kemudian dikesampingkan karena akan menimbulkan pembengkakan biaya.

“Dengan pertimbangan biaya itu pula kita pun membatasi peserta turnamen, padahal ada beberapa negara lain yang menyatakan kesiapannya berpartisipasi, ” tegas Nugraha.

Disamping Libya, Maladewa, Myanmar dan Kamboja, Argentina disebut-sebut siap memberangkatkan timnya ke Jakarta guna mengikuti even ini. Namun, keikutsertaan Argentina yang diwakilkan salah satu klub terasnya itu akhirnya tidak dipenuhi oleh PSSI. Pertimbangannya, tambahan tim peserta akan “merusak” jadwal yang telah disusun, disamping akan menimbulkan kerepotan lain, yakni pembengkakan dana. Tambahan waktu penyelenggaraan juga tak mungkin dilakukan, karena sudah sangat mepet dengan dimulainya bulan Ramadhan.

Pernyataan Nugraha Besoes mengenai kepastian tidak bisa diundurkannya pelaksanaan turnamen Piala Kemerdekaan berkaitan dengan adanya pemakaian SUGBK pada 24 Agustus oleh Tiensi, sebuah multi level marketing (MLM) obat-obatan. Penyewaan SUGBK pada 24 Agustus oleh MLM Tiensi mau tidak mau langsung bersinggungan dengan pelaksanaan Piala Kemerdekaan. Sebab, walau pun pada 24 Agustus itu tidak ada pertandingan, namun pihak penyewa ternyata sekaligus meminta agar Direksi Pengelola Gelora Bung Karno (DPGBK) untuk mengosongkan area SUGBK untuk seluruh kegiatan sejak sehari sebelumnya, yakni 23 Agustus.

Menurut keterangan, pada 23 Agustus tersebut pihak MLM Tiensi akan membuat sebuah panggung besar di tribun barat SUGBK. Sementara, di bagian ring-road SUGBK mereka juga akan melaksanakan bazaar besar-besaran. Ihwal akan dipakainya SUGBK untuk kegiatan MLM Tiensi itu sendiri baru belakangan diketahui oleh PSSI.

Menurut keterangan, pihak DPGBK melalui Direktur Sarana dan Prasarana Ir.Mahdar meminta PSSI untuk bersedia menggeser waktu pelaksanaan Piala Kemerdekaan tersebut, karena mereka merasa tidak mungkin membatalkan kontrak penyewaan SUGBK oleh MLM Tiensi.

“Mereka (Tiensi) sudah mengajukan kontrak pemakaian SUGBK itu sejak bulan Februari lalu,” kata Mahdar.

Senada dengan Nugraha Besoes, Deputi Sekjen IV PSSI Bidang Promosi dan Marketing Herman Chaniago menyatakan, tidak mungkin untuk menggeser pelaksanaan Piala Kemerdekaan karena tidak ada waktu lagi. Untuk itu, Herman Chaniago mengimbau pihak DPGBK bersikap kooperatif. Dia mengingatkan bahwa prioritas pemakaian SUGBK adalah untuk kegiatan olahraga.

Walau kemungkinan pihak DPGBK tidak mungkin juga membatalkan kontrak pemakaian SUGBK dengan MLM Tiensi secara sepihak, Herman Chaniago mengusulkan agar DPGBK memberikan beberapa toleransi kepada PSSI. Misalnya, dengan meminta agar pihak MLM Tiensi tidak membuat panggung besar di tribun barat yang nantinya bisa merusak pandangan penonton terhadap pertandingan di lapangan.

“Mungkin pihak DPGBK bisa meminta agar MLM Tiensi membuat panggung yang proporsional saja,” jelasnya.(adi)

sumber

%d blogger menyukai ini: