Jurnal Ilmiah Tentang MLM

@Rekan2 TW
Selamat sore, salam dari Jepang.

Kebetulan lagi agak ‘iseng’, lalu bongkar2 ScienceDirect (kumpulan jurnal international), eh berhasil menemukan beberapa Jurnal International yang membahas tentang MLM. Jadi ingin membagikan pada rekan2 sekalian. Mohon maaf bagi yang berkeberatan.

Oke, Jurnal2nya:
1. Palima and Saloma, C. (2008) Earning Potential in multilevel marketing enterprises. Physica A. 387(19-20), 4889-4895.
2. Grayson, K. (2007) Friendship Versus Business in Marketing Relationship. Journal of Marketing. 71, 121-139.

Mari kita bahas satu per satu. Bagi yang malas membaca karena terlalu panjang, saya gunakan function spoiler. (Mudah2an berhasil)
Pendapat umum, semua yang ditulis di dalam jurnal ini sangat sesuai dengan hasil telaah rekan2 TW sekalian, a very well done job, guys!
Jadi, mungkin yang saya share di sini sudah dimengerti oleh rekan2 sekalian, sekali lagi mohon maaf .

Jurnal pertama

download di sini

Abstract

Government regulators and other concerned citizens warily view multilevel previous termmarketingnext term enterprises (MLM) because of their close operational resemblance to exploitative pyramid schemes. We analyze two types of MLM network architectures — the unilevel and binary, in terms of growth behavior and earning potential among members. We show that network growth decelerates after reaching a size threshold, contrary to claims of unrestricted growth by MLM recruiters. We have also found that the earning potential in binary MLM’s obey the Pareto “80–20” rule, implying an earning opportunity that is strongly biased against the most recent members. On the other hand, unilevel MLM’s do not exhibit the Pareto earning distribution and earning potential is independent of member position in the network. Our analytical results agree well with field data taken from real-world MLM’s in the Philippines. Our analysis is generally valid and can be applied to other MLM architectures.

Keywords: Multilevel previous termmarketingnext term; Compensation plans; Small world network; Pareto distribution

pembahasan jurnal pertama:

Jurnal ini membahas mengenai bagaimana perkembangan MLM dilihat dari sisi growth dan profit mereka.
Biar gak panjang2, saya singkat saja apa hasilnya menurut jurnal mereka:
1. Ada dua macam MLM, Unilevel and Binary (gampangnya, binari itu yang kakinya cuman dua-dua terooos)
2. Ada batas dalam perkembangan MLM, tidak mungkin MLM terus berkembang infinitely, suatu saat pasti ‘kebentur’ batas jumlah populasi.
3. Pendapatan MLM binary sesuai dengan hukum Pareto 20-80, dimana 20% member lama akan menikmati 80% hasil.
4. MLM Unilevel tidak sesuai dengan hukum Pareto.
5. Pendapatan MLM didapat dari: profit penjualan(kepada semua pembeli), profit pairing (hanya dalam binary, sistem sponsor), profit referral (insentif dari merekrut member baru)
6. US memerintahkan jika member MLM harus menjual setidaknya 70% barang yang dia stock (lebih disukai jika dijual ke non member) sebelum membeli barang lagi. Jadi bukan beliiii terooos sampai naik bintaang! Ada dalam US Federal Trade Commision Rule. Mungkin rekan TW bisa browsing untuk lebih jelasnya?

Saya tidak akan bicara mengenai teknisnya, bahasanya sangat matematis dan menggunakan banyak turunan plus eksponensial function.

Hubungan dengan Tianshi

Jika dilihat sepintas, kelihatannya Tianshi ini termasuk MLM unilevel, bukan binary.
Hm? Kalau begitu hukum Pareto tidak berlaku dong! Hidup Tianshi! Go Freedom! dll, dst.
Tunggu dulu…..
Mari kita lihat point2 ini:
1. Dalam pembahasan jurnal ini, menurut saya Tianshi merupakan gabungan dari kedua jenis MLM tersebut, dan mengambil bagian jelek2nya saja.
2. Profit penjualan barang dalam Tianshi menganut sistem yang invert/kebalik. Dalam jurnal, diasumsikan secara general jika makin atas upline, makin kecil bonus yang ia dapat terhadap downline yang hirarkinya makin jauh terhadap dia. Tetapi dalam Tianshi makin atas upline, tidak peduli bagaimana prosentase bonus akan makin membesar!
3. Profit pairing ada dalam Tianshi (promoting bonus), dicampur dengan profit penjualan (pemaksaan beli?), dimana sekali lagi makin atas prosentase bonus akan makin membesar.
4. Profit referral, well, sekali lagi dikombinasikan dalam berbagai bonus milik Tianshi, dengan makin atas prosentase bonus makin membesar.
5. Ada profit ‘bagi hasil dari penjualan mendunia’ jika mencapai tingkat ‘di atas awan’. Hal ini kontradiksi dengan pengakuan jika member Tianshi bukanlah distributor resmi Tianshi. Lalu siapa yang memanage pembagian tersebut jika pihak pabrik lepas tangan? Siapa yang mengetahui laporan keuangan distributor ‘tidak resmi’ seluruh dunia? Ini adalah ‘anomali’ Tianshi terhadap MLM yang dibahas dalam jurnal.

Seharusnya:
1. Makin ke atas maka prosentase bonus akan turun proporsional hingga tingkatan tertentu di bawah upline tersebut sudah ‘tidak mendapat bagian’ dari omset downline. Upline mendapat bonus dengan jumlah ‘sewajarnya’ melalui ‘economy of scale/jumlah downline yg banyak, walau prosentase sedikit tapi dengan jumlah downline banyak bonus sudah ‘banyak secara wajar’.
2. Banyak anggota member Tianshi yang menumpuk stock/membeli barang dengan niat meningkatkan bintang tanpa menjual. Akibatnya pendapatan lebih kecil dari pengeluaran. Seharusnya mereka lebih aktif untuk menjual produk, bukan naikin bintang.

Dampak:
1. Dengan makin tinggi grade member, makin besar prosentase Bonus akan ‘melukai’ cashflow perusahaan mereka, karena ‘bonus’ yang didapatkan menyedot banyak ‘profit’ yang dihasilkan, baik melalui penjualan produk atau membership fee.
2. Untuk mencegah hal ini terjadi, mereka harus ‘giat’ mencari member baru sebagai ‘darah baru’ untuk menjamin agar cashflow mereka tetap berjalan.
3. Diadakan seminar, dvd, dll dengan dikenai biaya untuk ‘menyokong’ cashflow ‘perusahaan mereka’, plus ajang untuk mencari anggota.
4. Jika suatu saat treshold tercapai/anggota baru udah mentok, efeknya akan langsung terasa drastis.
5. Tanda jika mereka mulai ‘kekurangan’ anggota baru bisa dilihat dari tingkat intensitas mereka melakukan ‘conference/seminar’. Silahkan dicek .

Jurnal ke dua

download di sini

Absracts

Although combining friendship and business in the same relationship can be beneficial, it can also create conflict. A source of this conflict is incompatible relational expectations. True friends are expected to be unmotivated by
benefits that can be used beyond the relationship (e.g., money, status), whereas business partners are, by definition, at least partly motivated by these more “instrumental” concerns. Using a role theory framework and data
collected from a survey of 685 direct-selling agents, this article reports evidence that a conflict between friendship and instrumentality can undermine some of the business outcomes that friendship might otherwise foster. It also suggests that this conflict is more severe for friendships that become business relationships than for business relationships that become friendships. Study conclusions do not suggest that friendship is entirely “bad” for business and, instead, propose that friendship’s influence can be both positive and negative.

pembahasan

Jurnal kedua ini membahas mengenai bagaimana orang menyikapi persahabatan mereka jika berhubungan dengan bisnis, terutama MLM. Sudah menjadi hal yang jamak jika member MLM pertama2 akan mencari calon member pada keluarga sendiri plus teman2nya daripada orang yang sama sekali asing. Hasil dari penelitian adalah:
1. Konflik akan terjadi. Teman adalah teman, bisnis adalah bisnis. Jika teman dicampur dalam ranah bisnis, konflik akan terjadi.
2. Konflik lebih parah pada tingkatan dari teman diajak jadi mitra bisnis (MLM) daripada dari mitra bisnis dijadikan teman.
3. Konflik yang terjadi malah akan ‘merusak’ bisnis yang akan dirajut.
4. Tidak semua persahabatan ‘jelek’ untuk bisnis. Tapi sebagian besar persahabatan bisa ‘hancur’ akibat bisnis.

Saya tidak perlu bicara terlalu banyak tentang hal ini. Saya rasa rekan2 TW sendiri sudah banyak mengalami dan banyak testimony yang memberikan bukti konkrit atas jurnal ini.
Cuma, hal ini bisa dijadikan acuan yang menarik.

Phew, demikianlah monolog saya

Setidaknya jika ada yang bertanya:
1. Kata siapa MLM itu suatu saat hancur/tidak berkembang? Ngemeng aja, dasar orang Negatif! Sudah miskin sombong! Plus kebun binatangnya. Mana buktinya, halah itu kan kata anda, dll, dst.
2. Siapa bilang ikut MLM merusak persahabatan? Jangan asal ngomong elo! Tunjukin bukti!

Ternyata, ladies and gentlement, ada bukti valid dan otentik dalam bentuk Jurnal International untuk pertanyaan2 di atas

Once again, mohon maaf akan puuuuaaaaanjaaaangnya monolog saya.

Dewa, minasan, dozou youroshiku onegaiitashimashu

special thanks for momiji_manju atas “monolog”nya.

pertanyaan dari kami kenapa ada perbedaan antara kajian ilmiah di siencedirect dengan orang-orang yg ngaku “ahli” MLM di APLI padahal belum pernah membuat jurnal ilmiah?

—update—

untuk kemudahan kedua jurnal tersebut dapat di download di sini

Ingin memberi tanggapan? datang saja ke :

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=865698

atau bila anda sekalian memiliki berbagai keluhan/pengaduan mengenai tianshi? lgs saja hubungi kami lewat : :

pr@tianshi-watch.com

%d blogger menyukai ini: